Tuesday, September 23, 2014

F.T.A... Apa Itu?


Nama ini bukan dibuat karena kami pengen bikin tour agency bersama dimasa depan atau promo kalau ada sodara atau keluarga kami yang punya tour agency.

Apa sih arti dari F.T.A itu? 

F = Filsafat 
Didalam blog ini akan membahas tentang filsafat dan membantu mencari informasi tentang filsafat

T = Tour
Tour adalah cara kami membawa anda mengenal lebih jauh tetang FILSAFAT sehingga anda tidak merasa bosan. Kami juga menyediakan lagu untuk mengiring anda saat membaca blog ini. 

A = Agency
Kami adalah agent/tour guide yang akan membantu anda berkenalan dengan filsafat. Bila kesusahan anda dapat bertanya pada kami. 

Kesimpulan dari F.T.A
Kami ingin membantu teman - teman megenal lebih jauh lagi apa itu filsafat dengan cara yang tidak membosankan. Didalam blog kami, akan disajikan hal - hal tentang filsafat yang akan disampaikan dengan cara yang menarik sehingga terasa seperti sedang menjalankan tour atau berwisata. Setidaknya terasa seperti wisata pedidikan. 

Selain itu, kami juga menyediakan beberapa hal lain seperti:
  • Menampilkan foto kelompok
  • Menyediakan lagu - lagu instrumental 
  • Memberi beberapa artikel mengenai filsafat
  • Memberikan cerita tentang apa yang kami dapat saat kuliah 

Berikut saat narsis kami 

Sebenarnya foto ini ada di post pengenalan, tapi ini gaya normalnya

Ini anggota cewek - ceweknya 

keren, tak?

Hehehe...saya minta maaf bila ada kata - kata yang tidak berkenan di post ini. Jangan lupa commentnya ya... comment anda sangat berarti bagi saya dan kelompok. Terima Kasih =D







Kesesatan Pemikiran (Fallacia)

oleh Dr. Raja Oloan Tumanggor

     Fallacia adalah kesalahan pemikiran dalam logika, bukan
kesalahan fakta, tapi kesalahan atas kesimpulan karena penalaran yg tidak sehat.

Kesalahan penalaran, klasifikasinya:

> Kesesatan formal: pelanggaran terhadap kaidah logika

     Misalnya: Semua penodong berwajah seram. Semua pengamen
berwajah seram. Jadi semua pengamen adalah penodong
     Apa yang dilanggar? 
Tidak semua pengamen adalah penodong dan ada juga penodong
yang tidak berwajah seram.

Kesesatan informal: menyangkut kesesatan dalam bahasa
   
   Misalnya: kesesatan diksi
Contoh:
---Penempatan kata depan yg keliru
          Antara hewan dan manusia memiliki perbedaan.
---Mengacau posisi subjek atau predikat
         Karena tidak mengerjakan PR, guru menghukum anak itu.
---Ungkapan yang keliru: 
         Pencuri kawakan itu berhasil diringkus polisi minggu yang lalu.
---Amfiboli: sesat karena struktur kalimat bercabang. 
         Anto Anak Bu Lasma yang hilang ingatan lari dari rumah.
---Kesesatan aksen/prosodi: sesat karena penekanan yang salah/
dalam pembicaraan
         Ada aturanAnda tidak boleh ganggu anak tetangga’. 
Pak Budi bukan tetangga anda. Maka anda boleh mengganggu
anaknya.
---Kesesatan bentuk pembicaraan:sesat karen orang
menyimpulkan kesamaan konstruksi juga berlaku bagi yang lain.
         Berpakaian artinya memakai pakaian. Bersepeda artinya
memakai sepeda. Maka, beristeri artinya memakai isteri.
---Kesesatan aksiden: yang aksidental dikacaukan dengan hal yang
hakiki.
         Sawo matang adalah warna. Orang Indonesia itu sawo
matang. Maka, Orang Indonesia itu adalah warna.
---Kesesatan karena alasan yang salah: Konklusi ditarik dari premis
yg tak relevan.

Menghindari Persoalan 
Argumentum ad hominem: Jangan percaya omongannya
karena ia bekas narapidana.

Argumentum ad populum: Anda lihat banyak ketidakadilan
dan korupsi, maka Partai Nasdem adalah partai masa
depan kita.

Argumentum ad misericordiam: Seorang terdakwa meminta
keringanan hukuman karena mengaku punya banyak
tanggungan.

Argumentum ad baculum: Karena beda pendapat, suka
meneror orang lain.

Argumentum ad auctoritatem: Mengutip pendapat Freud
mengenai psikoanalisa.

Argumentum ad ignorantiam: Bila tidak bisa dibuktikan
bahwa Tuhan itu ada, maka Tuhan tidak ada.

Argumen utk keuntungan seseorang: Seorang pengusaha
berjanji mau membiayai kuliah, bila mahasiswi mau
dijadikan isteri.

Non causa pro causa: Orang sakit perut setelah menghapus 
sms berantai, maka dia menganggap itu sebagai
penyebabnya.

Kesesatan Retoris

Eufemisme/disfemisme
Pembangkang yg dianggap benar disebut reformator. Bila tidak 
disenangai maka disebut anggota pemberontak.

Penjelasan retorik: 
Dia tidak lulus krn tidak teliti mengerjakan soal.

Stereotipe
Orang Jawa penyabar. Orang Batak suka menyanyi.

Innuendo: 
Saya tidak mengatakan makanan tidak enak, tapi mau
mengatakan lukisan itu bagus.

Loading question: 
Apakah Anda masih tetap merokok?

Weaseler
Tiga dari empat dokter menyarankan bahwa minum itu
memperlancar pencernaan.

Downplay: 
Jangan anggap serius omongannya karena dia hanya
buruh bangunan.

Lelucon/sindiran

Hiperbola: membesarbesarkan.

Pengandaian bukti:
Studi menunjukkan.

Dilema semu
Tamu yang menolak kopi, langsung disuguhi sirup.


sumber dari power point KESESATAN PEMIKIRAN (FALLACIA)








Monday, September 22, 2014

Silogisme

oleh Dr. Raja Oloan Tumanggor

Silogisme, apa itu? 

   Suatu simpulan dimana dari dua putusan (premis-premis) disimpulkan suatu putusan yg baru.
Prinsipnya bila premis benar maka simpulannya benar. Silogisme ada dua macam, yaitu:
Silogisme Kategoris
   Merupakan silogisme yang premis dan simpulannya adalah putusan kategoris/ pernyataan tanpa
syarat. Tentukan lebih dulu simpulan. Ciri-cirinya lewat kata-kata: karena itu, maka dari situ, dll. Bila
kesimpulan sdh dirumuskan, tentukan alasannya (menunjuk pada term menengak{M}). Susunlah
silogisme yg terdiri dr 3 bagian
simpulan (S-P),  
Premis minor (yg mengandung  S dan M), dan 
premis mayor (titik tolak penalaran, dmn ada P dan M).

Contoh:
M – P  Perbuatan jahat itu haram
S – M Menghina itu adalah perbuatan jahat
S – P  Maka, menghina itu haram.
Bila penalaran baik, silogisme memperlihatkan alasan dan dasarnya.
 
Silogisme Kategoris Tunggal 
   Mempunyai dua premis, (S,P,M). 
Bentuknya: 
(1) M adalah S dalam premis mayor dan P dalam permis minor. Aturan: premis minor harus sebagai
     penegasan, sedang premis mayor bersifat umum. 
     M – P Setiap manusia dapat mati (mayor) 
     S – M Aristoteles adalah manusia (minor)
     S – P Jadi, Aristoteles dapat mati (simpulan)
(2) M jadi P dalam premis mayor dan minor. Aturan: salah satu premis harus negatif. Premis mayor
      bersifat umum. 
    P – M Lingkaran adalah bentuk bundar (mayor). 
    S – M Segitiga bukan bentuk bundar (minor) 
    S – P Segitiga bukan lingkaran (simpulan)
 (3) M menjadi S dlm premis mayor dan minor. Aturan: premis minor hrs berupa penegasan  dan
       simpulannya bersifat partikular.
    M-P Mahasiswa itu org dg tugas belajar (Mayor)
    M-S Ada mahasiswa yg org bodoh (minor)
    S-P Jadi, sebagian org bodoh itu org dg tugas belajar (Simpulan)
(4) M adalah P dlm premis mayor dan S dlm premis minor. Aturan: premis minor hrs berupa
     penegasan, sedangkan  Simpulan bersifat partikular.
    P – M Influenza itu penyakit (mayor)
   M- S Semua penyakit mengganggu kesehatan (minor)
   S-P  Jadi, sebagian yg mengganggu kesehatan itu influenza (simpulan)  
 
Silogisme Kategoris Majemuk 
   Bentuk silogisme yang premis-premisnya sangat lengkap, lebih dari tiga premis. Jenis2nya:
(1) Epicherema: silogisme yg salah satu/kedua premisnya disertai alasan.
         Semua arloji bermutu adalah arloji mahal, krn sukar pembuatannya.
         Arloji Mido itu adalah arloji baik, krn selalu tepat dan awet.
         Jadi, arloji Mido adalah arloji mahal.  
(2) Enthymema: silogisme yg dlm penalarannya tdk mengemukakan semua premis secara eksplisit.
Salah satu premis/simpulannya dilampaui, disebut juga silogisme yg disingkat. 
Versi singkat: Jiwa manusia adalah rohani. Jadi, tidak akan mati.
Versi lengkap: Yang rohani itu tdk akan dapat mati. 
                         Jiwa manusia adalah rohani.
                        Maka, jiwa manusia tdk akan dapat mati. 
(3) Polisilogisme: deretan silogisme dimana simpulan silogisme yg satu menjadi premis utk silogisme
yg lainnya.   
Seseorang yg menginginkan lebih dari yang dimiliki, merasa tdk puas. Seorang yang rakus adalah
seseorang yang menginginkan lebih dari yang dimiliki. Jadi, seorang yang rakus merasa tidak puas. 
Seorg yang kikir merasa tidak puas. Budi adalah seorang yang kikir. Jadi, Budi merasa tidak puas.
(4) Sorites: silogisme yang premisnya lebih dari dua. Putusan2 itu dihubungkan satu sama lain
sedemikian, sehingga predikat dari putusan yang satu jadi subjek putusan berikutnya.
Orang yang tidak mengendalikan keinginannya, menginginkan seribu satu barang.
Orang yang menginginkan seribu satu barang, banyak sekali kebutuhannya. Orang yang banyak
sekali kebutuhannya, tdk tenteram hatinya. Jadi org yg tdk mengendalikan keinginannya, tdk
tenteram hatinnya.  

Hukum Silogisme Kategoris
   Silogisme tidak boleh mengandung lebih dari tiga term (S, M, P) artinya tidak ada perbandingan.
 Kurang dari tiga berarti tidak ada silogisme. Ketiga term tetap sama artinya. Dalam silogisme S dan P
disatukan oleh perbandingan masing-masing dengan M.
    M tidak boleh masuk dalam kesimpulan, karena M berfungsi mengadakan perbandingan dengan
term-term.
Term S dan P dalam simpulan tidak boleh lebih luas dari premis-premisnya. Jika S dan P dlm premis
partikular, maka dalam simpulan tidak boleh universal. Bila dilanggar akan terjadi latius hos (menarik
simpulan yang terlalu luas).  
Mis. Semua lingkaran bulat. Nah, semua lingkaran itu gambar. Maka, Semua gambar itu bulat. (Simpulan salah, mengapa? Bagaimana yang benar?)  


sumber dari power point Silogisme