oleh Mikha Agus Widiyanto, S.Th.,M.Pd.
ž Penalaran
induksi adalah cara kerja ilmu pengetahuan yang bertolak dari sejumlah
proposisi tunggal atau partikular tertentu untuk menarik kesimpulan yang umum
tertentu. Kesimpulan yang dianggap benar dan berlaku umum diambil atas dasar
fenomena, fakta atau data tertentu yang dirumuskan dalam proposisi tunggal tertentu.
ž
Perhatikan
dan pelajari contoh berikut ini:
Saya
bertemu dengan seorang bapak. Tak lama kemudian dia mendekatiku dan meminta sedekah (mengemis). Saya perhatikan bapak tersebut mempunyai ciri-ciri tua,
baju compang camping, serta badannya kotor dan bau. Di tempat lain, saya
bertemu dengan seorang bapak lagi. Ketika saya amat-amati ternyata ciri-cirinya
sama dengan bapak yang pertama. Pengalaman ini terjadi sampai tiga kali. Akhirnya, saya melihat seorang bapak dengan ciri-ciri seperti di atas, yaitu
tua, baju compang camping, badan kotor dan bau, maka saya langsung mengambil
kesimpulan bahwa bapak tersebut pasti seorang pengemis. Kesimpulan ini saya
ambil karena saya menyimpulkan bahwa semua orang dengan ciri-ciri tersebut
pasti pengemis. Inilah cara berpikir induksi.
Bila melihat pada contoh yang diatas, untuk melahirkan sebuah kesimpulan umum
diawali dengan mengkaji / meneliti / mengamati beberapa fenomena dan
mengumpulkan berbagai data kemudian dievaluasi.
Meskipun kesimpulannya diambil secara berpikir induksi (dapat sah dan dianggap benar
serta berlaku umum) tapi kebenarannya (hukum/teori ilmiah) masih dianggap bersifat
sementara. Hal ini disebabkan karena ciri dasar berpikir induksi adalah selali tidak lengkap.
Dalam
kegiatan ilmiah, biasanya peneliti berkerja berdasarkan pengamatan dan data
yang sangat terbatas. Peneliti biasanya hanya menggambil beberapa data yang dianggap
mewakili, karena data yang
relevan jumlahnya tidak terbatas, di
satu pihak penalaran
induksi memiliki persamaan dengan deduksi, yaitu
kedua-duanya mendasari argumentasi
argumentasinya dari premis-premis yang mendukung kesimpulan.
Perbedaan
mendasarnya, argumentasi dalam penalaran induksi
yang tepat akan
mempunyai
premis-premis yang benar, namun kesimpulannya dapat salah. Disebabkan
karena argumentasi dalam penalaran induksi tidak membuktikan bahwa
kesimpulan itu
benar.
Premis
hanya menetapkan bahwa kesimpulan berisi suatu kemungkinan, sebab premis
hanya
mengandung sebagain dari bukti atau data yang dibutuhkan kesimpulan.
Akibatnya,
argumentasi argumentasi yang terdapat dalam penalaran induksi tidak dinilai
sebagai valid (sahih) atau invalid
(tidak sahih), melainkan berdasarkan
probabilitas.Kesimpulan
dari argumentasi induktif berupa pernyataan umum yang
didasarkan pada
premis-premis mengenai sampel-sampel khusus. žDengan
kata lain, bentuk
penalaran induksi didasarkan pada sampling dari banyak kasus
individual.Karena
itu,
argumentasi induksi akan menjadi lebih kuat apabila jumlah kasus
individualnya
meningkat.
Ciri - Ciri Penalaran Induksi:
1.Premis-premis
dalam penalaran induksi merupakan proposisi
empiris yang
berhubungan langsung dengan observasi indera. Indera menangkap dan akal
menerima.
2.Kesimpulan
dalam penalaran induksi lebih luas dari pada apa yang dinyatakan di
dalam
premis-premisnya. Karena itu, pikiran tidak terikat untuk menerima kebenara
kesimpulannya. Jadi menurut kaidah-kaidah logika penalaran ini tidak sahih.
3.Meskipun
kesimpulan induksi itu tidak mengikat, akan tetapi manusia yang normal
akan
menerimanya, kesuali apabila ada alasan untuk menolaknya. Jadi dapat dikatakan
bahwa kesimpulan induksi itu memiliki kredibilitas
rasional yang
disebut probabilitas.
Generalisasi Induktif:
> Genaralisasi
induktif merupakan proses penalaran berdasarkan pengamatan atas
sejumlah gejala
atau sifat-sifat tertentu untuk menarik kesimpulan mengenai
semua.
> Dapat
dikatakan juga sebagai bentuk penalaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang
bersifat khusus atau premis ditarik kesimpulan yang bersifat umum.
> Proses
induksi dapat dibedakan menjadi generasilasi induksi, analogi induktif dan
hubungan sebab akibat.
> Prinsipnya
adalah “ apa yang diterjadi beberapa kali dapat diharapkan akan selalu
terjadi
apabila kondisi yang sama terpenuhi”.
>žKesimpulan
dalam generalisasi itu hanya suatu harapan, kepercayaan, karena konklusi
penalaran induktif tidak mengandung nilai kebenaran yang pasti, akan tetapi
hanya
berupa suatu probabilitas atau peluang.
Syarat Generalisasi yang Harus Diperhatikan:
1.Generasilasi tidak terbatas
secara numerik.
Artinya
generalisasi tidak boleh terikat pada jumlah
tertentu.
2.Generalisasi tidak terbatas
secara “spasio-temporal”.
Artinya generalisasi tidak boleh terbatas dalam ruang dan waktu. Jadi berlaku
di mana
saja dan kapan saja.
3.Generalisasi harus dapat
dijadikan dasar
pengandaian.
Misalnya, ada fakta
bahwa anak SMA itu berbeda dengan mahasiswa. Apabila ditemukan
fakta bahwa anak
SMA sering membolos, mencontek saat ujian, suka tawuran dan tidak
dapat diatur.
Seandainya mahasiswa mempunyai sifat yang sama, maka dapat disimpulkan
bahwa
mahasiswa itu sama dengan anak SMA.
Analogi Induktif
Analogi
adalah berbicara mengenai dua hal yang berlainan dan dua hal yang berlainan
tersebut dibandingkan dan melihat aspek persamaannya dari kedua hal tersebut.Maka bisa
dibilang analogi adalah persamaan di antara dua hal yang berbeda.
Analogi
dalam penalaran adalah analogi induktif artinya suatu
proses penalaran untuk
menarik kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala khusus
berdasarkan kebenaran
gejala khusus
lainnya yang memiliki sifat-sifat esensial yang sama.Yang
terpenting adalah
apakah persamaan yang dipakai sebagai
dasar kesimpulan sungguh-sungguh merupakan
ciri-ciri
esensial
yang berhubungan erat dengan kesimpulan yang dikemukakan.
Kesimpulannya tidak bersifat universal melainkan khusus.
Prinsip Dasar Penalaran Analogi Induktif:
“Karena hal d analog dengan a, b, c, maka apa yang berlaku bagi a, b,
dan c dapat
diharapkan berlaku juga untuk d.”
Contoh:
Mangga
I : kuning, besar, matang ternyata
manis
žMangga
II : kuning, besar, matang ternyata
manis
žMangga
III : kuning, besar, matang ternyata manis
Mangga
IV : kuning, besar, matang
Kesimpulannya
: mangga ke IV tentu manis juga.
Berbeda
dengan generalisasi induktif, di mana kesimpulannya selalu berupa proposisi
universal, kesimpulan analogi induktif tidak selalu berupa proposisi universal,
melainkan
tergantung dari subyek-subyek yang dibandingkan.
žSubyek-subyek
itu yang dapat bersifat individual, partikular maupun universal. Akan
tetapi
sebagai penalaran induktif, konklusinya lebih luas dari premis-premis.
Faktor Probabilitas
Kebenaran
kesimpulan dalam logika induktif, baik itu generalisasi maupun analogi
induktif bersifat tidak pasti.
ž Hal
ini dikarenakan kebenarannya bersifat masih kemungkinan. Artinya kebenaran
kesimpulan induksi selalu terkait dengan tinggi rendahnya probabilitas.
žProbabilitas
adalah keadaan pengetahuan antara kepastian dan kemungkinan.
Misalnya,
kesimpulan bahwa “semua manusia akan mati” adalah kesimpulan yang pasti
benar
hanya jika menunjuk pada mereka yang telah mati. Tinggi
rendahnya probabilitas
kesimpulan induktif dipengaruhi beberapa faktor, di
antara faktor fakta,faktor analogi,
faktor disanalogi dan faktor luas konklusi.
Faktor
fakta berkenaan dengan prinsip “semakin besar jumlah fakta yang
dijadikan
dasar penalaran induktif, akan semakin tinggi pula probabilitas
konklusinya, dan
sebaliknya”
žFakta
analogi berkenaan dengan prinsip “Semakin besar jumlah faktor
analogi di dalam
premis, akan semakin rendah probabilitas konklusinya dan
sebaliknya. Yang dimaksud
dalam hal ini adalah faktor kesamaan.
Fakta
disanologi terkait dengan prinsip “semakin besar faktor disanologi
di dalam
premis, akan semakin tinggi probabilitas konklusinya dan sebaliknya”.
Yang dimaksud
dengan faktor disanologi adalah faktor ketidaksamaan.
ž Faktor
luas konklusi terkait prinsip “Semakin luas konklusinya, semakin
rendah
probabilitasnya dan sebaliknya”.
Selain faktor objektif, tinggi rendahmya probabilitas suatu penalaran juga dipengaruhi faktor - faktor subjektif yang biasanya muncul dalam penalaran seseorang tanpa disadari keberadaannya. Ketidaksesuaian dengan kaidah penalaran membawa manusia mengalami kesesatan (fallacy).
Faktor yang Menyebabkan Kesesatan Dalam Penalaran Induktif:
1. Tergesa - gesa
2. Ceroboh
3. Prasangka
Hubungan Sebab Akibat
Seringkali dikaitkan bahwa keadaan yang terjadi(akibat) disebabkan oleh keadaan atau
kejadian lainnya (sebab). Juga merupakan suatu hubungan intrinsik/ hubungan asasi.
Prinsip umumnya menyatakan bahwa "suatu peristiwa disebabkan oleh sesuatu".
Hubungan
sebab akibat antara peristiwa-peristiwa dapat terjadi dalam tiga pola, yaitu:
žPola
dari sebab ke akibat
žPola
dari akibat ke sebab
Pola
dari akibat ke akibat
DEDUKSI
Penalaran
deduktif ini selalu diungkapkan dalam bentuk silogisme. Silogisme
adalah
suatu bentuk argumentasi yang bertitik tolak pada premis-premis dan dari
premis-premis
itu ditarik suatu kesimpulan. Maksud
dari premis-premis itu untuk memberikan bukti
bahwa kesimpulan itu benar. Premis-premis
dari suatu argumentasi deduktif yang tepat
berisi semua bukti yang dibutuhkan
untuk membuktikan kebenaran suatu
kesimpulan. Benar
salahnya kesimpulan deduktif berdasarkan rujukan realitas,
argumentasi-argumentasi deduktif yang memiliki kekhasan tersendiri. žArgumentasi
argumentasi
deduktif dinilai lebih berdasarkan atas sahih (valid) atau tidak sahih
(invalid).
Apa
yang dimaksud dengan kebenaran premis? žPremis
dianggap “benar” apabila sesuai
dengan realitas. Sebaliknya premis dianggap
“salah” apabila tidak sesuai dengan realita.
Ciri - Ciri Silogisme:
1.Semua pernyataannya (proposisi) adalah proposisi kategoris.
2.Terdiri dari dua premis dan sebuah kesimpulan.
3.Dua premis dan satu kesimpulan secara bersama-sama memuat tiga
term (kata) yang
berbeda dan masing-masing trem tampak di
dalam dua dari tiga proposisi.
Premis
Mayor: Setiap cendekiawan adalah kaum intelektual
žPremis
Minor: Psikolog adalah cendekiawan
Konklusi: Jadi, Psikolog adalah kaum intelektual.
Argumentasi tersebut dinamakan silogisme karena argumentasi tersebut terdiri dari 3
ciri tersebut ždi mana proposisi hubungan antara subyek dan predikat bersifat langsung,
tanpa syarat. Dengan
kata lain pengakuan predikat terhadap subyek bersifat langsung.
Pengakuan predikat “kaum intelektual” terhadap subyek “setiap cendekiawan” bersifat
langsung. Silogisme terdiri dari ketiga
term yang berbeda , serta masing-masing
term
muncul dalam dua dari tiga proposisi. Misalnya,
term mayor “kaum intelektual” terdapat
baik pada premis
mayor maupun dalam kesimpulan.
Term minor, yaitu “Psikolog”,
terdapat di
premis
minor dan kesimpulan.
Dan term menengah
(term penghubung kedua
premis) yaitu “cendekiawan” terdapat di premis mayor maupun premis
minor.
sumber dari power point (IV) Logika Induktif dan (IV) Logika Deduktif
ž
blognya bagus dan cukup lengkap. nilainya 80 dehh:D
ReplyDeletemakasih vero =D
ReplyDeletewaaw materinya masuk semua tapi maih kurang foto-fotonya aja ,88 yaa buat lo
ReplyDeletemakasih izzutzu =D
Delete